movie review

20 Tahun Princess Mononoke: Tetap Relevan Sampai Kini

Film Studio Ghibli Paling Berdarah-darah yang Sudah Saya Tonton Sampai Saat Ini

Pertama kali saya mengenal Studio Ghibli adalah sekitar setahun lalu saat melihat seorang teman sedang menonton Ponyo dan langsung tertarik untuk ikut menonton. Film-film Studio Ghibli lalu menjadi film wajib yang ingin saya tonton. Lama setelah itu, dari sebuah warnet saya mengadopsi semua film Studio Ghibli. Namun sampai sekarang, dari seluruh film produksi mereka (selain Ponyo), saya baru menonton KazeTachinu, Spirited Away, The Cat Returns, Howl’s Moving Castle, My Neighbor Totoro, dan Princess Mononoke.

Dari beberapa film tersebut, Princess Mononoke memiliki nuansa paling gelap dan banyak memuat adegan kekerasan, bahkan yang berdarah-darah. Di adegan pertama, saya sudah disodori penampakan mengerikan sesosok iblis yang ternyata seekor celeng. Disusul kemudian adegan penuh aksi saat Ashitaka, pangeran terakhir ras Emishi, berusaha membunuh sosok ini.

princess.mononoke.1

Ashitaka berhasil membunuh celeng yang hendak menyerang desanya ini dan menemukan sebongkah besi dari dalam tubuh si celeng yang meluruh dan lenyap. Belakangan, diketahui bahwa dewa hutan berwujud celeng bernama Nago ini berubah jadi iblis setelah kena tembak oleh Nona Eboshi. Dalam pertarungan itu, lengan Ashitaka terluka dan jadi punya kekuatan super yang bisa bergerak sendiri begitu Ashitaka dikuasai kemarahan. Sang wanita bijak mengatakan bahwa kutukan itu akan memakan Ashitaka dari dalam dan lama-lama akan membuatnya mati. Wanita bijak itu menyuruh Ashitaka pergi ke Barat tempat Nago berasal untuk mencari bantuan.

Di sisi lain, Eboshi, pemimpin Kota Besi, sedang memimpin para prajuritnya mengiring para banteng yang mengangkut pasokan beras untuk desa mereka. Di samping itu, Eboshi juga bersiaga membunuh dewa hutan berwujud serigala bernama Moro. Moro muncul bersama dua serigala lain dan seorang gadis—San, sang Putri Mononoke—yang menunggangi salah satu dari mereka. Serigala-serigala itu menyerang prajurit Eboshi dan menyebabkan beberapa dari mereka terjatuh ke jurang. Ashitaka, yang sedang dalam perjalanan, menemukan dan menyelamatkan dua warga Kota Besi yang terjatuh ke sungai itu. Saat itulah, Ashitaka melihat untuk pertama kali Putri Mononoke dan Moro.

princess.mononoke.2
Saya sudah terkesima oleh penampakan San sejak kali adegan ini. Dengan mulut penuh darah, ia tampil begitu mengintimidasi dan… menarik.

Ashitaka lalu ikut dua lelaki itu ke Kota Besi. Di sana ia bertemu dengan Eboshi dan mengetahui bahwa selama ini Eboshi memimpin warganya menghancurkan hutan di sekeliling mereka untuk menambang besi. Para warganya, terdiri dari para lelaki dan orang buangan masyarakat, yaitu bekas pelacur dan penderita lepra, bekerja untuk memproduksi senjata api. Eboshi juga berambisi membunuh Dewa Agung Hutan karena darahnya dipercaya bisa menyembuhkan para penderita lepra.

Suatu malam, San menyerang Kota Besi untuk membunuh Eboshi. Dihadang para prajurit, akhirnya ia terpojokkan dan terluka, begitu pula dengan Ashitaka yang tertembak. Berkat kekuatan tangan supernya, Ashitaka berhasil menolong San dan membawanya pergi. Di hutan, Shishigami (Roh Hutan—sang dewa atas kehidupan dan kematian), muncul dan menyembuhkan luka Ashitaka.

Eboshi memang mengizinkan Ashitaka pergi membawa San, tapi ia tetap tak menyerah untuk membunuh Dewa Agung Hutan. Di hari yang telah direncanakan, ia bersama para prajurit bersenjata api pimpinan Jigo berhasil memasuki hutan dan menyaksikan kemunculan Shishigami. Apakah Eboshi berhasil membunuhnya? Dan, apakah roh pelindung hutan bisa dibunuh? Apa yang akan terjadi pada seisi hutan jika pelindungnya itu terbunuh?

Fiksi Sejarah Berbalut Fantasi

Inilah salah satu hal yang membuat saya menyukai film garapan Hayao Miyazaki ini. Mengambil latar periode Muromachi (1336–1573) di Jepang, film ini tidak serta-merta menjejali penontonnya hal-hal berbau sejarah yang padat dan berisiko membosankan. Periode ini digunakan sebagai latar karena merupakan peralihan antara zaman pertengahan ke masa modern awal[1]; peralihan ke masa eksploitasi besi dan penggunaan senjata api.

Miyazaki menjadikan animasi ini menyegarkan dengan mengolahnya secara fantastis, berpadu dengan unsur-unsur lokalitas Jepang yang begitu kental. Film ini menghadirkan seorang pangeran ras Emishi; seorang gadis yang sejak bayi dibesarkan oleh serigala hingga ia menganggap dirinya bukan manusia; dan seorang wanita militan, yang di sisi lain tak bisa dimaafkan karena dengan rakus menghancurkan hutan, tapi di sisi lain adalah sosok penyelamat kaum yang termarjinalkan. Di dalam film ini, tidak ada karakter yang hitam, juga tak ada yang putih. Semuanya abu-abu.

Ashitaka dan San

Lady Eboshi: What exactly are you here for?

Ashitaka: To see with eyes unclouded by hate.

Ashitaka, seperti telah saya sebutkan di atas, adalah pangeran terakhir ras Emishi. Ras ini menjadi minoritas setelah dikalahkan oleh samurai dari klan Yamato[2], hingga dikira sudah punah. Saya membayangkan bagaimana perasaan para penduduk desa itu saat harus melepaskan pangeran terakhirnya pergi dengan membawa kutukan. Namun sungguh kesatria sikap Ashitaka dalam mengalahkan Nago demi menyelamatkan desanya. Setelah ia harus menanggung kutukan pun, dengan besar hati ia meninggalkan desa untuk pergi ke Barat. Bahkan, menurut saya, ia terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja mengalami pertarungan dengan sosok mengerikan dan baru saja mendapat kutukan yang akan mencabut nyawanya perlahan. Pun dia berusaha mencegah terjadinya peperangan antara manusia dengan pasukan babi hutan. Dalam perjalanannya, sikap-sikap Ashitaka menunjukkan bahwa ia sosok yang juga berhati lembut. Lihatlah kesopanannya terhadap Kodama (roh penunggu pohon; saya suka bagaimana roh ini kepalanya sering berputar-putar dan menimbulkan bunyi “krrrrk, krrrrk, ckkklk”) dan kepeduliannya terhadap para penduduk Kota Besi.

princess.mononoke.6
Kodama
princess.mononoke.3
Ashitaka pernah ikut merasakan beratnya pekerjaan para perempuan di Kota Besi.

Dalam bahasa Jepang, Mononoke berarti roh atau monster. Gadis yang dipanggil San itu disebut begitu karena ia selalu muncul bersama para serigala, salah satunya adalah Moro, sang dewa serigala, yang ia panggil “Ibu”. Ironisnya, ia sesungguhnya adalah putri perusak hutan yang dulunya tertangkap basah oleh Moro, lalu menyerahkan bayi mereka sebagai ganti nyawa mereka sendiri. San lalu tumbuh dalam asuhan Moro dan menjadi pelindung hutan. Seperti Moro dan para dewa hutan lainnya, San membenci manusia. Bahkan, ia menganggap dirinya adalah serigala, bukan manusia. Awalnya San bersikap defensif dan curiga terhadap Ashitaka—terlebih karena dia manusia—tapi akhirnya ia percaya juga karena Ashitaka menunjukkan benar-benar bahwa ia tak ingin merusak hutan. Terlebih setelah Roh Hutan sendiri menampakkan diri dan bersedia menyembuhkan Ashitaka dari luka tembaknya.

Ashitaka dan San menunjukkan bahwa sepasang manusia yang saling mencintai dan berkomitmen tak harus selalu bersama-sama karena masing-masing punya tugas berbeda.

Eboshi, Sosok Pemimpin Wanita Militan yang Merusak Hutan

Eboshi, pemimpin Kota Besi, adalah perempuan revolusioner dan barangkali pendobrak stereotip gender. Ia memelopori penambangan besi dan merancang sendiri senjata api. Ia juga pemburu yang gagah berani, terbukti dengan, misalnya, keberhasilannya menembak Nago. Di bidang sosial, ia membuat gebrakan dengan mengumpulkan para perempuan mantan pelacur dan penderita lepra di kotanya. Di “pabrik” senjata di Kota Besi, ia mempekerjakan mereka. Pada masa itu di Jepang, dua kaum itu termasuk buangan masyarakat.

Life is suffering. It is hard. The world is cursed, but still, you find reasons to keep living.

(Osa)

Tak heran, para penduduk Kota Besi sangat menghormati dan mencintai Eboshi. Meski begitu, ia punya satu sisi antagonis yang membuat Putri Mononoke membencinya: Eboshi melakukan perusakan hutan untuk menambang besi dan berambisi membunuh dewa hutan. Ia telah mengusik keseimbangan alam. Sayangnya, latar belakang Eboshi kurang dieksplorasi, misalnya, apa sebenarnya yang melatari tindakan revolusioner yang ia lakukan?

Entah kenapa, Eboshi mempercayai Ashitaka sehingga mengizinkan dia pergi setelah peristiwa penyerangan yang diinisiasi oleh San. Padahal bagi Eboshi, tidak jelas Ashitaka berada di pihak siapa. Mengapa ia berani mengambil risiko ini? Apakah karena ia melihat dan merasakan bahwa Ashitaka bisa dipercaya?

Sayangnya, Eboshi tidak selalu bertindak bijaksana, sehingga ia bisa dimanipulasi oleh Jigo, agen kerajaan yang menyamar jadi seorang rahib. Dengan pasukan bersenjatanya, Jigo membantu Eboshi memburu roh hutan dan memanfaatkan perempuan itu untuk membunuh Shishigami. Jigo mengincar kepala Shishigami untuk dipersembahkan kepada kaisar, ditukar dengan bukit penuh emas bagi Eboshi.

Kota Besi, Suaka bagi Para Mantan Pelacur dan Penderita Lepra

Eboshi mengumpulkan para mantan pelacur dan penderita lepra, kaum yang termarjinalkan oleh masyarakat, untuk bekerja di Kota Besi. Eboshi memperlakukan para penderita lepra itu sebagai manusia, perlakuan yang hampir tak mungkin mereka dapatkan di masyarakat pada umumnya. Bahkan Eboshi sendiri yang merawat luka-luka mereka.

princess.mononoke.4

Ironisnya, kaum tersebut tidak benar-benar “bebas”. Setelah lepas dari kungkungan masyarakat yang membuat mereka merasa tersingkir, mereka kini terkungkung dalam Kota Besi; dalam rutinitas pekerjaan membuat senjata api. Kaum perempuan dan laki-laki memiliki tugas masing-masing di Kota Besi.

Adegan yang melibatkan para mantan pelacur, terutama ocehan Toki, adalah sumber humor dalam film ini. Begitu melihat bahwa Ashitaka ternyata tampan, Toki dan para perempuan lain segera saja menggodainya.

Saya senang melihat mereka yang begitu optimis. Para mantan pelacur itu bisa membicarakan masa lalu mereka yang kelam dengan gaya seolah tanpa beban. Dan jelas, mereka mengidolakan Eboshi dan menjadi para perempuan pekerja keras nan gagah berani. Pekerjaan mereka melibatkan kekuatan fisik, hal yang masih dianggap sebagai “pekerjaan laki-laki” di masa itu.

Hutan yang Menangis: Peperangan Tiada Akhir antara Manusia dan (Roh Pelindung) Hutan

What I want is for the humans and the forest to live in peace!

(Ashitaka)

Perang antara para babi hutan yang marah, didukung oleh Moro dan anak-anaknya termasuk San, berakhir tak menyenangkan bagi para babi hutan itu.

Film yang dirilis pertama kali di Jepang pada tahun 1997 ini masih—atau justru makin—relevan dengan realita masa kini. Kalau di film itu manusia, diwakili oleh Eboshi, sedang keranjingan menambang besi dan mulai membuat senjata api hingga merusak hutan, maka di masa kini, hutan semakin tak punya harapan tersisa untuk bertahan.

princess.mononoke.7
Wujud dewa hutan saat malam.

Apa yang terjadi saat hutan menghilang? Matinya dewa hutan melambangkan kematian hutan itu sendiri. Manusia pun menanggung akibat dari perbuatannya terhadap hutan. Saya sedih menyaksikan gambaran kematian hutan. Dan sekarang, sudah berapa hutan yang manusia bunuh? Adakah masa depan bagi hutan di bumi ini? Kita bisa optimis, sebagaimana yang ditawarkan oleh Miyazaki melalui bagian akhir film ini. Namun, jujur saja, saya agak pesimis.[ ]

[1] Studio Ghibli Wikia

[2] ibid.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s