7 days KF · Fiksiku · writing challenge

3: Kukira Aku Kehilangan Hatiku

PhotoGrid_1497349563376

Mungkin kau akan mengira bahwa aku telah kehilangan sesuatu dari dadaku, atau bahkan kehilangan dadaku, setelah kaubaca puisiku waktu itu. Kukatakan dadaku melubangi dirinya sendiri, lalu kau mengeratinya hingga ia tinggal lubang dan terbang tanpa tahu pulang.

(Atau kau bahkan tidak membacanya? Tak mengapa, aku ora patheken, kalau kata orang Jawa. Aku menulis itu karena aku tak tahan, dadaku digelitiki tanpa henti oleh suatu dorongan untuk menggerakkan jemariku menarikan huruf-huruf melalui layar sentuh. Suatu dorongan yang menyurukkanku ke dalam sumur nan dalam tanpa penerangan, apalagi tali pengaman.

Dari bawah, gravitasi menjulurkan sulur-sulur lengannya dan melilitku, menarikku seolah ia sangat merindukanku dalam rengkuhan. Dalam kejatuhanku, satu sisi diriku pasrah pada lengannya, tapi sisi yang lain berusaha menarik ranting-ranting cahaya yang menggantung dengan ujung mata. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk merasakan saja kengerian sekaligus gemetar karena tak sabar, apa yang menantiku di dasar?

Seperti itulah bagiku rasanya menulis karena hanya ingin menulis. Bukan karena-karena yang lain. Aku merasa kembali pada gairah menulis yang hakiki.

Aku menulis itu bukan agar kau membacanya. Yah, syukur-syukur kalau kaubaca, jadi setidaknya kau akan menduga-duga. Aku sungguh tak terima kalau hanya aku yang menduga-duga. Itu sungguh kampret, ngomong-ngomong.)

Kukira aku kehilangan hatiku, mungkin kau juga mengira begitu. Tapi beberapa kali telah terbukti kalau kau lebih tahu diriku daripada aku sendiri, jadi mungkin kau sudah tahu. Namun biarlah aku berasumsi kau belum tahu.

Kukira ketika dadaku melubangi dirinya sendiri, ia kehilangan hati. Hati itu adalah lubang yang terbang tanpa tahu pulang. Ketahuilah, tampaknya ia terbang kepadamu. Jika benar begitu, sediakah kau menemaninya terbang? Tapi tolong, jangan kautangkap dia dengan paksa lalu mengurungnya. Atau kalau tidak, tolong kembalikan dia padaku.

Kukira aku kehilangan hatiku, tapi tidak, K. Aku sudah bercermin tadi, setelah melolosi seluruh pakaian dan kukuliti ragaku. Semoga cermin itu tak berbohong ketika dia menunjukkan padaku bahwa hatiku masih di sana. Kulihat dia memang masih lebam dan terlihat jadi makin liat, tapi setidaknya dia masih di sana.

Saat bercermin itulah, aku jadi tahu bahwa aku tak tahu siapa diriku. Aku seperti Adam, yang bangun di suatu pagi hari dan menemukan bahwa ada rusuknya yang hilang. Lalu ia melihat ada seseorang dari jenisnya tapi dengan dada berbuah sepasang dan tak punya zakar. Hawa menawarinya buah pengetahuan dan Adam mencecapnya. Ia merasakan kenikmatan tapi rasa bersalah terlalu kuat mencengkeram hingga ia menimpakan kesalahan itu seluruhnya pada Hawa. Lalu mereka berdua jadi tidak tak tahu lagi. Mereka jadi tahu bahwa mereka telanjang dan malu.

Kau tahu, K? Ternyata aku kehilangan ketidaktahuanku. Aku telah mulai kehilangan itu sejak pertama kali kita bertemu. Aku jadi tahu, bahwa mungkin bagiku bertemu seseorang sepertimu. (Dulu kukira itu nyaris tak mungkin menemukan seseorang sepertimu.) Aku jadi tahu, bagaimana rasanya saat logikaku mendadak memilih jadi buta dan segumpal emosi menjatuhkan aku, tidak sesakit-sakitnya, tapi cukup sakit hingga aku memohon dia untuk enyah saja, tapi dia terus muncul dan merajam aku (aku akan senang sekali jika ia merajamku sampai mati saja).

Sebelum Adam menjadi ‘tahu”, hidupnya sungguh tenteram, meski mungkin ia kesepian. Setelah ia bertemankan Hawa dan mereka berdua jadi “tahu”, hidup jadi tak mudah bagi mereka. Namun setidaknya, mereka bersama-sama.

Kau menawarkan buah pengetahuan itu padaku, dan itu bukan salahmu kalau aku turut memakannya, karena aku sendiri yang memilih untuk memakannya. Dan kini, aku terusir dari Firdausku, dari zona nyamanku. Namun tak seperti Adam dan Hawa yang melewatinya bersama-sama, aku melewatinya sendiri. (Aku berharap kau juga melewatinya, sendiri.)

Aku sungguh merindukan diriku yang tidak tahu, K. Aku sungguh merindukan betapa aku bisa menjalani tiap jam hari-hariku tanpa berkawan karib dengan gelisah mencekam dan rindu menekan. Kata Eka Kurniawan, rindu itu seperti dendam: harus dibayar tuntas. Rinduku tak bisa terbayar tuntas, dan itu rasanya mungkin seperti sakitnya orgasme yang tak sampai. Atau, aku justru harus bersyukur? Karena rinduku tak pernah mencapai klimaks, maka ia tak akan pernah surut. Ini seperti kata-kata Saman dalam surat kepada bapaknya.

Aku kehilangan ketidaktahuanku, K, dan hidupku tak akan sama lagi. Entah aku harus berterima kasih atau membencimu. Atau tidak keduanya. Aku ingin bisa tak merasakan apa-apa. Tapi tak bisa. Sial sekali.

**mungkin ini sambungan sebelumnya, mungkin juga tidak**

Catatan: tulisan ini dibuat untuk diikutkan tantangan menulis 7 hari yang diprakarsai oleh @KampusFiksi dan @Basabasi_store.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s