7 days KF · Fiksiku · writing challenge

2: Binatang Peliharaanku dan Peliharaanmu, Bisakah Bersama?

PhotoGrid_1497262830060

Ini adalah pertemuan keempat kita, dan entah bagaimana kita sudah mengobrol ke arah mana saja (bahkan sejak pertemuan pertama). Ini tidak biasa. Aku merasa seperti bukan diriku, yang tak gampang akrab dengan orang yang baru kukenal. Aku selalu membangun tembok tinggi di sekelilingku, yang tak sembarang orang bisa masuki. Tapi kau telah berhasil meruntuhkannya, bagaimana caranya?

“Tidak, aku tidak meruntuhkannya. Aku hanya membuat lubang seukuran tubuhku lalu memasuki tembok pelindungmu. Begitu saja.”

Aku tercenung begitu lama. Tanpa sadar aku telah mengizinkanmu masuk terlalu dalam. Pikiran ini segera saja merisaukan. Lebih baik kualihkan saja pembicaraan.

“Kalau kau diberi kebebasan memelihara seluruh binatang yang ada di dunia, binatang apa saja yang ingin kamu pelihara?”

Kau menatapku dengan alis terangkat. Seakan tahu bahwa aku sedang mengalihkan topik bahasan. Pembicaraan tentang aku dan kamu–kita–selalu mengilukan. Aku telah mengetahui akhirnya dan ingin terus menundanya saja.

“Kupu-kupu? Aku percaya ia hadir di saat ada hati yang sedang berbunga-bunga. Seperti waktu itu.”

Kau tersenyum lalu menjulurkan lidah. Aku tahu maksudmu. Waktu itu kita sedang berbunga-bunga, berjalan berdua, lalu ada kupu-kupu kuning menari di dekat kita.

Ngilu menyentakkan kupu-kupu dalam dadaku. Ia terkejut dan terbang menghilang dari pandang. Bunga-bunga itu hanya akan mekar sebentar, K, aku tahu itu. Berhentilah mencoba memaksakan ilusi seolah kupu-kupu itu akan datang lagi atau hinggap selamanya di semak berbunga itu. Ya, itu pun seandainya semak itu selalu berbunga.

“Kalau kamu?” tanyamu.

“Komodo.”

“Wow, kita harus bikin halaman rumah yang luas sekali kalau begitu.”

Hei, hei, kau bilang “kita” dan “rumah” barusan–dalam satu kalimat pula? Sudahlah, K, kau jangan terus-terusan mengerati dadaku yang mulai berlubang.

“Aku ingin sekali ke Pulau Komodo. Binatang itu seolah membawaku berkelana ke masa lalu. Ia terlihat menakutkan tapi juga sungguh menarik. Dan ia endemik. Tepatnya, ia menggelisahkan.

“Ah, ke Pulau Komodo. Kau mengingatkanku akan mimpi-mimpi yang hampir kulupa. Komodo tak seperti dinosaurus, yang sudah tak terlalu misterius lantaran sudah banyak film mencoba mewujudkan sekaligus mematahkan imajinasi masa kecilku tentangnya.”

Kau ingin ke sana juga, K? Aku tak terlalu berharap kita bisa ke sana bersama. Meski begitu, aku mengangguk. Tentang dinosaurus itu, aku sepakat.

“Aku juga ingin pelihara paus.”

“Kau suka yang besar-besar, ya? Nanti kita harus bikin juga akuarium raksasa di rumah. Eh, ups, keceplosan.”

Lalu kau meringis. Dan aku mengilu, lagi. Sial sekali.

“Aku ingin memelihara paus karena aku sudah merasa dekat dengannya setelah menonton Finding Nemo dan In the Heart of the Sea. Di Finding Nemo, paus jadi korban labelling oleh Marty. Dia dianggap berbahaya dan tak bisa dipercaya karena keraksasaannya. Untunglah ada Dory, yang selalu berpikiran terbuka dan berani mencoba. Kalau di In the Heart of the Sea, paus jadi korban perburuan manusia.”

“Ah, itu film yang diangkat dari novel Moby Dick, kan? Tapi aku agak pesimis seekor paus bisa sedemikian garang karena didorong oleh keinginan balas dendam…”

Kita sering punya pendapat yang bersesuaian. Kusadari ini sambil memandangi asap rokokmu yang berhamburan.

“Aku juga mau pelihara burung hantu. Kayak Harry Potter. Siapa tahu, nanti kemajuan teknologi akan mengalami kemunduran dan kita kembali ke masa berkorespondensi.”

“Hmm, sudah tiga. Baiklah, kini biar aku menebak binatang berikutnya,” ujarmu sambil mengetuk-ngetukkan rokokmu pada pinggiran asbak.

“Serigala. Benar tidak?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku ingat kau kemarin cerita bahwa kau suka sekali serial Game of Thrones dan terlebih, kau suka serigala peliharaan anak-anak…, siapa itu?”

“Ned Stark. Iya, direwolves. Aku suka karena mereka bisa jadi manis dan garang di saat yang dibutuhkan. Mereka juga mengingatkanku akan musim dingin yang belum pernah kualami.”

“Tak kusangka kau masih ingat ceritaku itu,” lanjutku.

“Ah, kau menyakiti hatiku,” celetukmu dengan nada pura-pura sendu.

Kucubit lenganmu dan kau tertawa lalu mengeluh, “Aku ngeri tiap melihat tanganmu melayang begitu. Cubitanmu sakit, tahu?”

Aku menjulurkan lidah dan kubuat kau berteriak sekali lagi karena cubitanku. Setidaknya, K, lengan yang memerah karena cubitan tak semenyakitkan dada yang berlubang.

“Satu lagi binatang yang ingin kupelihara. Kau mau coba tebak lagi?” tantangku.

“Hmm… Kupu-kupu?”

Aku tersentak. “Mengapa?”

“Karena aku ingin pelihara kupu-kupu. Jadi binatang peliharaanmu dan peliharaanku bisa bersama-sama.”

“Ah, begitu.”

Benarkah begitu, binatang peliharaanku dan peliharaanmu bisa bersama-sama?

Aku nyengir saja.

“Jadi benar, tidak?”

Aku hanya mengangkat bahu.

“Ah, kamu nggak asik!” serumu, pura-pura manyun.

Kau benar. Sial sekali. Dan oleh karenanya denyut di lubang di dadaku makin menjelma.

Aku takut, K.

**mungkin bersambung, mungkin tidak**

Catatan: tulisan ini dibuat untuk diikutkan tantangan menulis 7 hari yang diprakarsai oleh @KampusFiksi dan @Basabasi_store.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s