writing challenge

#MemesonaItu Bermula dari Cara Berpikir

Apa yang Telah Diperbuat Barbie terhadap Masa Kecil Saya

Saya tumbuh sebagai gadis kecil saat boneka Barbie begitu meledak di iklan-iklan televisi dan toko-toko mainan. Ekonomi keluarga saya pas-pasan, jadi begitu saya merengek minta dibelikan Barbie, mama saya membelikan saya yang palsu (yang badannya terbuat dari bahan tipis hingga bisa dipencet-pencet kayak bola plastik). Definisi memesona, bagi saya waktu itu, adalah punya penampilan fisik a la Barbie. Rambut pirang, mata besar, hidung mungil mancung, bibir memukau. Tubuh semampai, perut rata, pinggang ramping. Tanpa sadar pikiran saya diracuni: cantik itu seperti Barbie.

Lalu saya bercermin dan mendapati bahwa saya tidak memesona. Saya tumbuh sebagai anak perempuan bertubuh tinggi besar, tidak cantik, dan berkacamata. Zaman SD dulu, saya adalah satu-satunya anak yang memakai kacamata, dan itu dianggap aneh oleh teman-teman. Tiap saya lewat, ada saja yang mengolok-olok, “Mata empat, mata empat!”. Dengan mudah, saya akan menjadi kesal dan sedih. Yang jadi unggulan diri saya saat itu adalah selalu ranking satu di kelas dan sering mewakili sekolah dalam lomba-lomba (meski jarang menang). Tetap, saya tidak memesona seperti Barbie.

Titik Balik di Bangku Kuliah

Sejak saat itu, saya tumbuh menjadi remaja yang kurang percaya diri dan tidak mudah bergaul. Saya memikirkan pendapat orang lain akan diri saya, terutama fisik, dan membiarkan pendapat mereka meresahkan hati saya. Sampai di bangku kuliah, saya bertemu dan akhirnya bersahabat dengan seorang perempuan, N. N adalah sosok yang suka berpenampilan nyentrik (misalnya, ke kampus memakai kacamata kotak yang besar sekali dan bermotif macan tutul). Dia orang yang berani menjadi dirinya sendiri dan tidak peduli pada pendapat orang lain tentangnya. Interaksi yang intens antara kami berdua, entah bagaimana bisa menularkan sikapnya itu sedikit demi sedikit kepada saya. Berkat pengaruhnya, saya jadi lebih berani menjadi diri sendiri.

Buku-buku yang saya baca juga turut memengaruhi cara berpikir saya. Salah satu penulis perempuan yang tulisannya mengubah paradigma saya adalah Ayu Utami. Pergaulan saya dengan sosok-sosok perempuan tangguh dan percaya diri membukakan pemikiran saya yang selama ini dihantui Barbie. Memesona itu tidak seperti Barbie; betapa dungunya saya menganggap memesona itu dari segi fisik saja! Terlebih, makin dungu kalau saya menjadikan Barbie sebagai tolok ukur “perempuan cantik”. Apa yang telah diperbuat Barbie pada masa kecil saya sungguh mengerikan. Ia mengerdilkan paradigma saya tentang pesona perempuan, padahal ia tak lebih daripada sekadar boneka plastik tak bernyawa! Lihatlah yang telah diperbuat oleh kapitalis produsen Barbie!

baca.buku.the.circle

Memesona Itu Bermula dari Cara Berpikir

Setelah sadar bahwa selama ini saya dibodohi oleh Barbie, saya mulai merumuskan sendiri bagaimana perempuan yang memesona itu dari pelajaran-pelajaran yang saya pelajari dari hidup saya sendiri dan hidup orang lain. Terbiasa bergaul dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda (seperti suku, agama, latar pendidikan, sudut pandang), membuat saya berpikiran terbuka. Namun saya tetap berdiri teguh di atas akar prinsip pribadi, terutama tentang gender. Saya berpikiran terbuka tapi bersikap kritis terhadap hal-hal yang saya anggap tidak benar, misalnya tentang perilaku yang menyudutkan posisi sosial perempuan, terlebih jika para perempuannya sendiri tidak sadar, bahkan mendukung diperlakukan begitu. Misalnya, pernikahan di Indonesia yang menempatkan perempuan di posisi yang tidak menyenangkan. Masih banyak saya temukan, dari kalangan teman-teman seumuran, yang takut dianggap perawan tua jika tak segera menikah. Atau perempuan yang takut terlihat sendirian, dan oleh karena itu memutuskan untuk menikah. Perempuan boleh menikah setelah dia ingin dan siap, dan juga boleh tidak menikah; itu terserah dia. Istilah “perawan tua” adalah buah pikir masyarakat patriarkal yang menyudutkan perempuan.

Perempuan yang memesona tidak butuh menjustifikasi diri sendiri di depan orang lain, karena ia tahu siapa dirinya. Ia tahu apa yang ia mau dan berusaha meraihnya. Ia tak akan mengizinkan justifikasi orang lain memengaruhi apa yang ia yakini, apalagi mengizinkan mereka membentuk siapa dirinya! Enggak banget! Ia adalah siapa yang ia yakini.

jalan.di.lumpur

Perempuan yang memesona berani menantang diri sendiri dan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Untuk apa? Untuk menguji seberapa jauh kemampuannya dan untuk mempelajari kehidupan. Mengelakkan sebuah tantangan sesungguhnya membuang satu kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Oleh karena saya tahu saya tak piawai dalam bersosialisasi dan menjaga hubungan antarperseorangan, saya sengaja menjadi fasilitator masyarakat. Tinggal sendirian di suatu desa terpencil di Lampung, saya terlecut untuk bersosialisasi demi melaksanakan tugas. Tidak mudah menjadi seperti bukan alamiahnya kita, tapi saya berusaha bertahan karena percaya bahwa setiap perjalanan dan keputusan membawa pelajaran.

Perempuan yang memesona itu mudah terpesona oleh hal-hal di sekitarnya. Saya mendongak ke langit malam dan mengagumi bintang-bintang. Dalam perjalanan ke luar desa semasa menjadi fasilitator masyarakat, saya sering dibikin kagum oleh sapi penarik gerobak yang bisa berenang menyeberangi muara. Saya juga terpesona oleh kerlap-kerlip menyilaukan dari permukaan laut yang dibelai jemari mentari, atau kilauan pasir pantai yang mengandung bijih besi. Saya terkesima dan lalu mengajak bercanda kepiting-kepiting mungil yang mengintip dari balik lubang di pasir, yang lalu dengan cepat berlesatan tiap menangkap kehadiran manusia. Sembari berjalan, saya terpesona memandangi ombak yang berkejaran, membiarkan mereka membasahi kaki saya. Segala sesuatu di sekitar saya, yang terkecil maupun teremeh sekalipun, terjadi akibat keajaiban semesta. Oleh karena itu, saya terpesona.

CIMG9292

Perempuan yang memesona berani bermimpi dan melakukan sesuatu untuk orang lain. Pada akhirnya, untuk tampil lebih memesona dibutuhkan cara berpikir bahwa “saya adalah dan bisa menjadi siapa yang saya inginkan asalkan saya berusaha mencapainya”. Cara berpikir demikian yang berkolaborasi dengan hati akan membuahkan sikap dan karakter perempuan yang memesona. Kepercayaan diri akan memancar keluar dan itu membuat perempuan tampil lebih memesona.

*tulisan ini dibuat untuk menanggapi tantangan menulis #MemesonaItu.

505

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s