writing challenge

Tolong, Bisakah Seseorang Menyederhanakannya?

PhotoGrid_1489768549575
Perumahan cantik di Desa Hlibuei, Kec. Siding, Kab. Bengkayang, Kalimantan Barat

Kenapa saya masih bertahan hidup? Yeah, ini pertanyaan yang butuh usaha keras untuk memikirkan jawabannya. Oleh karena itu, kayaknya isi tulisan ini bakal serampangan karena merupakan tampilan proses berpikir saya yang masih mentah. Jadi, kalau kamu malas baca coret-coretan dalam kepala saya, atau malas ikutan bingung, mending skip aja πŸ˜….

Saya masih bertahan hidup barangkali karena Tuhan masih menghendakinya. Tidak, tidak. Saya tidak akan menjawab seperti itu. Itu adalah jawaban dari orang yang malas berpikir. Dan kebetulan, saat ini saya sedang ingin berpikir.

Barangkali karena saya masih bernapas. Tapi, lalu bakal timbul pertanyaan susulan, kenapa saya masih bernapas? Karena saya masih hidup maka saya bernapas. Duh, jadinya kayak siklus Krebs. Muter-muter terus. Barangkali maksud pertanyaan ini adalah untuk menemukan jawaban yang lebih abstrak daripada “bernapas”.

Oke. Berangkat dari asumsi itu, saya coba berpikir lagi. Bertahan hidup karena masih ada yang ingin saya lakukan di dunia ini saat masih hidup. (Kalau saat sudah mati, berarti saya jadi arwah gentayangan, dong.) Yang ingin saya lakukan itu macam-macam, mulai dari menebas satu demi satu buku di timbunan yang belum dibaca. Kenapa? Karena bagi saya itu salah satu hal yang penting. Buku membantu saya tetap “sadar”. Contohnya, saat baca “Sejarah Tuhan” (yang nggak kelar-kelar), saya jadi sadar bahwa selama ini saya menjalani hidup berspiritualitas dengan tidak sepenuhnya sadar. Kenapa saya tiap pagi baca Alkitab? Ini bisa jadi sekadar rutinitas. Dan “kesadaran” itu hal terpenting dalam hidup (menurut saya). Saya jadi tak beda dengan mesin yang programnya sudah disetel otomatis untuk, misalnya memuntahkan popcorn dengan kecepatan 1 kg per menit. Kalau dirunut lebih mundur lagi, kenapa saya beragama? Nah, saya jadi sadar kalau selama ini saya nggak sadar kenapa saya beragama. Terlalu banyak hal yang seperti sudah sewajarnya dilakukan orang-orang, jadi yang saya juga melakukannya tanpa tahu kenapa dan untuk apa.

Atau, contoh yang lebih sederhana. Kenapa saya mandi dua kali sehari? (Dulu ini, sudah lama saya mandi cuma sekali sehari atau sesuai kebutuhan.) Saya pernah menanyakan ini ke ibu saya. Jawabannya…. tidak mencengangkan.
“Karena dulu di sekolah diajari begitu oleh guru.”

Kenapa guru mengajarinya begitu? Apakah ada dasar ilmiahnya? Atau bahkan kenapa kita memercayai dan menuruti nasihat sang guru dan mandi dua kali sehari seumur hidup? Ini akan jadi panjang dan melebar. Ibu saya tak menjawab lagi setelah itu.

Nah, membaca buku membantu menyadarkan saya dan merumuskan jawaban-jawaban dari pertanyaan “kenapa” dan “untuk apa” itu. Membaca buku tentunya hanya salah satu cara. Banyak cara lain yang bisa membantu. Misalnya, melakukan perjalanan ke daerah terpencil dan tinggal di sana selama beberapa lama. Niscaya, pengalaman itu akan membantu saya menjawab dua pertanyaan itu. Dan juga menambah pertanyaan. Oke.

Lanturan ini membawa saya ke jawaban selanjutnya dari pertanyaan awal: kenapa saya masih bertahan hidup. Saya ingin mengunjungi banyak tempat. Bagi saya, sudah sewajarnya untuk menjelajah. Dunia ini begitu luas. Menyedihkan sekali jika saya terlalu lama memerangkap diri sendiri di satu tempat saja. Ya, kan? Oke, mungkin bagimu tidak. Tidak masalah. Setiap orang memang harusnya punya pemikirannya sendiri.

Berikutnya, masih banyak ide tulisan yang entah dari mana nemplok di kepala saya lalu minta ditulis. (Tapi nggak kunjung ditulis, lalu ada tulisan yang idenya mirip ide saya. Anjir, ini kok kayak ide saya! Yee, salah sendiri idenya ditimbun doang di bank.) Saya harus bertahan hidup karena saya harus menuliskannya.

Alasan berikutnya: saya sering kepikiran, ada hal tertentu yang bisa saya lakukan untuk orang lain (tarikan ide ini jadi sangat kuat, misalnya setelah menonton Kick Andy πŸ˜‚). Kapan mau diwujudkan? Nanti. Ini paralel dengan: saya membaca 9 buku di bulan Januari, tapi resensinya ntar-ntar aja, ya. Pada akhirnya, saya sudah terlalu lupa akan isi buku tersebut hingga malas menulis resensinya. Itulah mengapa banyak buku akhirnya tidak saya resensi. (Kadang saya bersembunyi di balik alasan basi, “Saya memang nggak mau ngeresensi buku ini karena saya sudah meniatkan membaca untuk fokus menikmatinya tanpa diganggu pikiran-pikiran kritis peresensi”.) Inilah salah satu kelemahan orang INTP.

Alasan berikutnya…., hmm. Barangkali bertahan hidup itu tak harus saya pertanyakan. Itu adalah suatu kewajiban sebagai manusia. Seperti Wladyslaw Szpilman, yang bagaimana pun juga, berusaha tetap hidup (setidaknya) sampai Perang Dunia II berakhir. Mungkin ia juga tidak tahu alasan pasti, kenapa waktu itu dia ngotot bertahan hidup, padahal banyak kesempatan mudah untuk mati. Mungkin saya tak perlu banyak mempertanyakannya. Mungkin saya hanya perlu mempertahankan dan menjalaninya. Seperti kata sang Monster kepada Conor O’Malley, “Yang terpenting bukanlah yang kaupikirkan, melainkan yang kaulakukan.” (Ya, mungkin nggak persis begitu, tapi kira-kira begitulah.)

Lho, kok saya malah jadi kontradiktif dengan pemikiran awal saya, yang berpikir bahwa penting untuk bertanya dan berusaha menjawab pertanyaan semacam “kenapa” dan “untuk apa”? Ya, saya sudah bertanya dan berusaha menjawab. Mungkin kalau nanti tiba-tiba kepikiran jawaban lain, saya akan memperbarui tulisan ini. Well, saya memang sedang menghindar. Atau memang saya akhirnya malas berpikir lebih jauh. Dan pikiran saya memang rumit, saya sendiri kadang kewalahan πŸ˜‚.

(Hari ketujuh tantangan menulis @kampusfiksi dan @basabasistore)

Advertisements

2 thoughts on “Tolong, Bisakah Seseorang Menyederhanakannya?

  1. Harapan, mungkin? (alasan untuk hidup)
    Atau bisa juga naluri (saat sedang sepi harapan, tapi tetap saja berusaha hidup)
    PS: Eh ni cuma menyedehanakan sesuai permintaan saja lho ya πŸ™‚

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s